Jumat, 25 Februari 2011

Menyimak Ceramah Agama


Stasiun televisi : Jtv
Acara : Bu Nyai Show
Hari, tanggal : Jumat, 25 Februari 2011
Waktu : pukul 12.30 s.d. 13.00
Ustadzah : Ibu Nyai Tan Mei Hwa
Tema : Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

I. Pokok-pokok isi ceramah :
1. Surga di bawah telapak kaki ibu karena kita lahir, dibesarkan, dan dididik oleh ibu.
2. Rasulullah menempatkan orang yang paling dihormati di dunia ini pada urutan kesatu, kedua, dan ketiga adalah ibu sedangkan pada urutan keempat adalah bapak.
3. Makna surga di bawah telapak kaki ibu diperuntukkan kepada para ibu yang benar-benar salihah dan taat pada ajaran agama Islam.
4. Perintah orang tua tidak boleh dibantah selagi tidak bertentangan dengan Al-quran.
5. Memang, ridho Allah adalah ridho suami, tetapi dilihat dulu seperti apa kelakuan suami itu sendiri.
6. Sekalipun berbeda agama kita tetap hormat kepada ibu, sedangkan masalah aqidah adalah urusan Allah.
7. Orang tua khususnya ibu adalah keramat hidup, artinya ”malati”
8. Ucapan orang tua sama artinya dengan doa.
9. Allah tidak ridho apabila anak menzalimi orang tua terutama ibu.
10. Ada kalanya kita berdosa kepada orang tua namun, tudak pernah ada niat untuk minta maaf.
11. Jangan sampai anak kita mengetahui bahwa kita tidak hormat kepada orang tua, karena akan ada karma untuk kita sendiri.
12. Anak akan melihat dan meniru apa yang telah kita lakukan kepada orang tua kita.
13. Segeralah kita merubah kelakuan kita kepada orang tua sebelum terlambat. Jangan sampai kita mengabaikan orang tua karena pasangan kita.
14. Sebenarnya musibah yang kita alami akibat kelakuan kita yang kurang baik kepada orang tua.
15. Hidup kita akan mulia bila taat kepada orang tua terutama ibu.
16. Doa ibu akan melenggangkan dan memuluskan jalan kita dalam kehidupan.
17. Jangan durhaka kepada ibu karena Islam begitu memuliakan ibu.
18. Contoh perilaku Rasulullah terhadap ibunya :
a. Rasul reformis sejati secara rohani dalam tata perlakuannya terhadap orang tua yang beritu indah dan patut dicontoh.
b. Memang, sejak berusia enam tahun ibunda Rasul telah meninggal, namun perlakuan Rasul kepada mertuanya seperti ibunya atau orang tuanya sendiri itulah yang patut dicontoh.
19. Dalam Al-quran surat Al- Lukman dijelaskan : ”Berbuat baiklah engkau kepada orang tuamu terutama ibu dan jangan sekali-kali engkau durhaka kepadanya. ”


II. Pelafalan :
1. Vokal penceramah jelas dan menarik.
2. Penyampaiannya lancar.
3. Menggunakan campuran bahasa Jawa agar lebih komunikatif dengan audiencenya.
4. Ada interaksi dengan audience.

III. Intonasi
1. Keras lemah dan cepat lambat suara penceramah bagus dan sesuai dengan situasi dan kondisi
2. Intonasi penceramah jelas dan lancar karena memang sudah terbiasa berceramah.

IV. Kata-kata sulit bagi anak SD :
1. ridho
2. telapak
3. karma
4. malati
5. pasangan
6. melenggangkan
7. durhaka
8. reformis
9. rohani
10. menzalimi
Menyimak Dongeng

I. Identitas dongeng :
1. Judul : Kisah Dua Putri Raja
2. Sumber : Dongeng untuk aku dan kau
3. Diproduksi : khusus untuk PT Nestle Indonedia
4. Lulus sensor no. : 33/VCD/SU/2.2011/2006
5. Tipe : VCD (Home Video)
6. Tanggal lulus sensor : 13 Februari 2006


II. Menceritakan kembali isi dongeng


Kisah Dua Putri Raja

Laila dan Hanida adalah kakak beradik. Mereka adalah dua orang putri raja yang memiliki kemampuan berbeda. Selain cantik, Laila pintar bermain harpa. Sedangkan Hanida, walaupun tidak begitu cantik, ia memiliki suara yang sangat merdu.
Pada suatu hari di kerajaan akan ada acara menyambut tamu dari kerajaan lain. Raja menyuruh kedua putrinya untuk bermain harpa dan bernyanyi. Pada saat penyambutan tamu, ternyata seluruh warga juga ikut berkumpul untuk mendengarkan Putri Laila yang sedang bermain harpa dan Putri Hanida yang bernyanyi. Mereka semua sangat senang begitu juga dengan raja dan permaisuri, orang tua kedua putri itu. Laila dan Hanida senantiasa saling memuji.
Pada saat kedua putri itu tampil, putri Lailalah yang lebih sering dipuji orang. Bahkan banyak kaum pria yang senang memberi bunga kepada Putri Laila. Hal itu membuat Putri Hanida marah, cemburu, dan iri hati kepada kecantikan kakaknya. Hanida semakin terobsesi dengan kecantikan kakaknya sendiri. Suatu hari raja memenggil kedua putrinya untuk membahas persiapan ulang tahun Putri Laila. Saat itu Putri Laila mengusulkan untuk mengatur sendiri acara ulang tahunnya dan raja pun menyetujui. Putri Hanida dengan senag hati bersedia membantu kakaknya. Peringatan ulang tahun Putri Laila diumumkan di seluruh pelosok negeri. Isi pengumuman Isi pengumuman adalah bahwa Putri Laila akan bermain harpa seorang diri.
Untuk mempersipkan acara ulang tahunnya, Putri Laila berlatih sendiri. Tiba-tiba Putri Hanida datang dan kaget karena ia tidak tahu kalau ada jadwal latihan musik. Putri Hanida minta maaf dan menjelaskan bahwa adiknya tidak bersalah. Putri Laila memberi tahu bahwa hari itu memang ia barlatih sendiri karena pada hari ulang tahunnya nanti Putri Laila akan tampil seorang diri. Mendengar hal itu, Putri Hanida menangis dan merasa kecewa. Ia mengadu kepada bibi pengasuhnya. Saat sedang berjalan-jalan, Putri Hanida mendengar sendiri banyak orang yang memuji kecantikan kakaknya. Bahkan orang mengatakan kalau Putri Laila lebih cantik daripada Putri Hanida. Gambar Putri Laila yang dipasang di seluruh pelosok negeri banyak dipuji orang. Akhirnya saat peringatan hari ulang tahunnya, Putri Laila bermain harpa seorang diri. Permainannya dipuji banyak orang. Tanpa Putri Hanida, ternyata Putri Laila bisa tampil bagus. Melihat kenyataan itu membuat Putri Hanida semakin marah.
Suatu hari Putri Hanida pergi ke tepi telaga. Di sana ia mengadu dan berdoa agar Tuhan mengubah wajahnya menjadi cantik,walaupun harus mengorbankan suara emasnya. Tiba-tiba datanglah seorang nenek tua. Karena mendengar doa Putri Hanida, nenek itu menasehati agar Putri Hanida memikirkan kembali niatnya itu, namun Putri Hanida tetap ngotot. Nenek itu mengatakan bahwa ia sangat mengagumi suara Putri Hanida. Nenek itu menjelaskan bahwa kecantikan hanya setipis kulit wajah. Jika becermin jangan hanya kulit wajah yang dipandangi, tetapi harus menatap jauh lebih dalam lagi untuk menemukan jati diri yang sebenarnya maka akan lebih mudah untuk mendapatkan apa yang terbaik bagi diri sendiri. Setelah menasehati, nenek menyuruh Putri Hanida melihat wajahnya di air telaga. Tiba-tiba wajah Hanida berubah cantik dan ia senang sekali. Ia pun berkeliling desa di kerajaan itu untuk memamerkan wajahnya. Ternyata benar, orang-orang memuji Putri Hanida yang lebih cantik daripada Putri Laila. Perubahan wajah Putri Hanida ternyata membuat ia tidak lagi dikenali orang sebagai putri raja, bahkan oleh pengawal kerajaan sendiri karena suaranya berubah menjadi buruk. Sudah seminggu Putri Hanida tidak pulang. Para pengawal kerajaan sibuk mencarinya. Raja pun marah kepada para pengawal karena tidak bisa menemukan Putri Hanida. Peristiwa itu membuat Putri Hanida menjadi sedih.
Karena rindu adiknya, suatu hari Putri Laila pergi ke tepi telaga, tempat yang biasanya selalu didatangi Hanida. Laila menangis di tepi telaga dan ia berdoa agar adiknya bisa kembali lagi. Saat itu tiba-tiba Putri Hanida datang, namun Putri Laila tidak mengenalinya. Setelah menceritakan apa yang terjadi akhirnya Laila percaya bahwa ia benar-benar Putri Hanida. Mereka akhirnya saling memaafkan dan saling mengakui kesalahan masing-masing. Putri Hanida tiba-tiba teringat pesan nenek tua saat itu lalu ia melihat lagi wajahnya di air telaga. Tiba-tiba wajah Putri Hanida kembali seperti semula begitu juga dengan suaranya yang merdu. Mereka semua bahagia dan kembali bernyanyi berdua di istana.


III. Kata-kata sulit dalam dongeng :
1. obsesi
2. harpa
3. pengawal
4. telaga
5. pelosok

IV. Intonasi
1. Intonasi para tokoh tidak monoton dan menarik.
2. Keras lemah dan tinggi rendah suara para tokoh sesuai dengan karakter masing-masing.


V. Pelafalan
1. Vokal para tokoh jelas.
2. Penyampaiannya lancar.